-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Disertasi Irjen Chaidir Gegerkan Sidang Doktor, Tawarkan Model Baru Keamanan RI- Malaysia

| Mei 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-23T10:19:56Z

 

Foto bersaman Irjen Chaidir


Pesonanusa. Sidang terbuka program doktor di STIK-PTIK, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu, 5 Mei lalu menjadi sorotan setelah Irjen Pol Dr. Chaidir memaparkan gagasan baru kerja sama keamanan Indonesia–Malaysia untuk menghadapi kejahatan lintas negara.

Melalui disertasinya, Chaidir memperkenalkan model IM-INGOFF-TOC (Indonesia–Malaysia Integrated Nodal Government Framework for Transnational Organized Crime) sebagai konsep penguatan penanganan kejahatan terorganisir transnasional, mulai dari perdagangan orang, narkotika, hingga kejahatan siber.

Sidang yang berlangsung di Gedung Bhadawa STIK-PTIK sejak pukul 09.00 WIB itu tidak hanya membahas aspek akademik, tetapi juga menawarkan konsep yang dinilai dapat diterapkan dalam kebijakan keamanan kawasan.

“Saya tidak ingin disertasi ini hanya menjadi dokumen akademik yang megah tetapi tidak membumi,” kata Chaidir saat menyampaikan pandangannya kepada Stephanus Slamet Budi Raharjo, Pemimpin Redaksi Majalah MATRA sekaligus CEO Majalah Eksekutif.

Menurut Chaidir, pola kerja sama keamanan antarnegara di kawasan masih cenderung reaktif dan biasanya baru diperkuat ketika krisis terjadi. Setelah situasi mereda, koordinasi kembali melemah.

Untuk itu, ia menawarkan pendekatan nodal governance, yakni kolaborasi lintas aktor yang tidak hanya bertumpu pada peran negara, tetapi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Dalam disertasinya, Chaidir mengusulkan tiga langkah utama, yakni pembentukan Joint Task Force permanen Indonesia–Malaysia, pengembangan platform pertukaran data dan intelijen real-time “SIKAT IM”, serta penyusunan SOP bilingual guna mempercepat koordinasi lintas negara.

Selain itu, ia juga memasukkan program capacity building berjenjang melalui pelatihan teknis dan pertukaran personel antarlembaga.

Chaidir berharap rekomendasi tersebut dapat diadopsi oleh Polri, khususnya Divhubinter, melalui pembentukan Indonesia–Malaysia Joint Task Force on TOC dengan skema pendanaan bersama.

Disertasi ini dinilai menjadi upaya membangun arsitektur keamanan kawasan yang lebih proaktif di tengah meningkatnya ancaman kejahatan lintas batas yang semakin kompleks dan adaptif. [nata]


×
Berita Terbaru Update