Pesonanusa. Kementerian Keuangan menyebut tekanan gejolak global terhadap pasar keuangan Indonesia masih berada pada level yang relatif moderat. Namun, sejumlah indikator menunjukkan perlunya kewaspadaan terhadap dinamika eksternal yang belum sepenuhnya mereda.
Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Kemenkeu, Noor Faisal Achmad, menyampaikan bahwa sentimen risk-off global memang mendorong arus modal keluar (capital outflow), tetapi dampaknya terhadap Indonesia dinilai masih terkendali.
“Asesmen kami menunjukkan tekanan terhadap Indonesia masih relatif moderat,” ujar Faisal dalam Central Banking Forum 2026 di Jakarta, Senin.
Meski demikian, pelemahan nilai tukar rupiah tetap menjadi perhatian. Pada perdagangan Senin pagi, rupiah tercatat melemah 17 poin atau 0,10 persen ke level Rp17.121 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.104 per dolar AS.
Kondisi ini mencerminkan bahwa tekanan eksternal masih berpengaruh terhadap stabilitas nilai tukar.
Faisal menilai arus keluar modal lebih dipicu faktor global ketimbang persoalan fundamental domestik. Klaim ini diperkuat oleh sejumlah indikator ekonomi yang masih menunjukkan ketahanan.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur Indonesia pada Maret tercatat di level 50,1 atau masih dalam zona ekspansif, meski melambat dibandingkan Februari yang mencapai 53,8. Sementara itu, neraca perdagangan mencatat surplus 1,27 miliar dolar AS pada Februari 2026, memperpanjang tren positif selama 70 bulan berturut-turut.
Inflasi juga relatif terkendali di level 3,48 persen (yoy), dan pertumbuhan kredit perbankan mencapai 9,37 persen (yoy), menandakan aktivitas ekonomi domestik masih berjalan.
Namun demikian, sejumlah ekonom menilai moderasi pada PMI serta tekanan terhadap nilai tukar menjadi sinyal bahwa ketahanan ekonomi domestik tidak sepenuhnya imun terhadap gejolak global.
Pemerintah pun diharapkan tidak hanya mengandalkan indikator makro yang stabil, tetapi juga memperkuat respons kebijakan yang adaptif, terutama dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan kepercayaan investor di tengah ketidakpastian global.
Kemenkeu menegaskan akan terus menjaga kredibilitas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta memastikan respons kebijakan tetap antisipatif dan terukur guna meredam potensi tekanan lanjutan. [nata]
