Pesonanusa. Pemerintah memastikan tidak ada alasan keterlambatan pemulihan pascabencana di Pulau Sumatera karena persoalan anggaran. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan dana pemulihan telah tersedia dengan total mencapai Rp100,16 triliun.
“Keuangan cuma ditanya anggaran siap enggak, saya bilang siap,” tegas Purbaya usai rapat bersama menteri dan DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (25/5).
Untuk mempercepat proses, Kementerian Keuangan kini mengambil langkah jemput bola agar dokumen dipercepat dan pencairan anggaran tidak lagi tersendat.
“Jadi enggak usah takut, duitnya ada,” kata Purbaya.
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyebut program pemulihan pascabencana di Sumatera ditargetkan rampung pada 2028 dengan total 11.512 kegiatan strategis.
Program tersebut meliputi pembangunan jalan, jembatan, sekolah, normalisasi sungai hingga pembangunan hunian tetap. Tahun 2026 menjadi fase terbesar penyerapan anggaran dengan alokasi mencapai Rp38,9 triliun.
Porsi terbesar anggaran akan mengalir melalui Kementerian Pekerjaan Umum yang diperkirakan mengelola sekitar Rp69 triliun selama tiga tahun ke depan.
“Prioritas utama tahun ini adalah pembangunan infrastruktur, normalisasi sungai, perbaikan jalan, pembangunan sekolah dan hunian tetap,” kata Tito.
Pemerintah juga menyetujui tambahan Transfer ke Daerah (TKD) sebesar Rp10,6 triliun untuk mempercepat pemulihan di tiga provinsi terdampak yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Dari tambahan tersebut, Sumatera Utara menerima porsi terbesar Rp6 triliun, disusul Sumatera Barat hampir Rp3 triliun, sementara Aceh memperoleh Rp1,6 triliun.
Secara total, anggaran penanganan bencana yang mengalir ke tiga provinsi itu diproyeksikan mencapai Rp48,9 triliun hingga akhir tahun ini.
Di sisi lain, pemerintah mengakui pemulihan di Aceh masih menghadapi tantangan berat, terutama di 11 kabupaten/kota terdampak. Untuk membantu percepatan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Sumatera Barat memberikan hibah antardaerah senilai Rp284 miliar yang difokuskan untuk pemulihan wilayah tersebut. [nata]
