Pesonanusa. Kabar baik datang bagi petani padi di Kabupaten Mukomuko. Kini, perjuangan petani dalam mengelola sawah hingga masa panen mendapat dukungan teknologi yang diharapkan mampu meringankan pekerjaan sekaligus meningkatkan pendapatan.
Wakil Gubernur Bengkulu, Mian bersama Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menyerahkan bantuan satu unit alat mesin pertanian (alsintan) berupa Combine Harvester kepada Kelompok Tani Mekar Sari di Desa Tirta Mulya, Kabupaten Mukomuko, Rabu (4/11).
Bantuan ini menjadi wujud sinergi Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Bank Indonesia dalam mendukung percepatan swasembada pangan nasional, khususnya dalam meningkatkan produktivitas pertanian padi.
Bagi petani, kehadiran alat panen modern bukan sekadar bantuan sarana pertanian. Lebih dari itu, teknologi ini diharapkan menjadi solusi atas persoalan klasik yang selama ini dihadapi, mulai dari tingginya biaya panen hingga keterbatasan tenaga kerja.
Wakil Gubernur Bengkulu Mian mengatakan, pemanfaatan teknologi pertanian menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat sektor pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Menurutnya, komitmen mewujudkan swasembada pangan sebagaimana dicanangkan Presiden Prabowo Subianto melalui Asta Cita harus didukung langkah nyata hingga ke tingkat petani.
“Bapak Presiden melalui Asta Cita menargetkan swasembada pangan. Kita harus memperkuat sektor pertanian dengan berbagai dukungan, termasuk teknologi pertanian. Kondisi El Nino yang terjadi saat ini harus kita antisipasi agar produktivitas pertanian tetap terjaga. Hari ini Bank Indonesia memberikan bantuan Combine Harvester kepada kelompok tani di Tirta Mulya. Ini merupakan bentuk kepedulian dan sinergi untuk membantu petani kita,” kata Mian.
Ia menjelaskan, penggunaan Combine Harvester memberikan keuntungan nyata, terutama dalam menghemat biaya dan mempercepat proses panen.
Jika panen dilakukan secara manual, biaya yang dibutuhkan dapat mencapai sekitar Rp3 juta per hektare. Sementara dengan menggunakan Combine Harvester, kebutuhan bahan bakar sekitar 9 liter atau senilai Rp200 ribu, ditambah biaya operator sekitar Rp500 ribu.
Dengan perhitungan tersebut, petani berpotensi menghemat hingga Rp2,3 juta per hektare.
Tak hanya dari sisi biaya, waktu pengerjaan juga jauh lebih singkat. Panen satu hektare lahan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 1,5 hingga 2,5 jam. Jauh berbeda dengan metode manual yang membutuhkan waktu dua hingga tiga hari untuk luasan lahan yang sama.
“Dengan alat ini, pekerjaan petani menjadi lebih ringan, biaya panen bisa ditekan, dan waktu pengerjaan jauh lebih singkat. Harapannya, hasil pertanian semakin optimal dan kesejahteraan petani juga meningkat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal dan dikelola dengan baik oleh kelompok tani.
Menurutnya, penggunaan Combine Harvester dapat membantu proses pemanenan menjadi lebih efektif, sekaligus mengoptimalkan pengumpulan gabah agar hasil panen petani dapat dimanfaatkan dengan lebih baik.
“Alat Combine Harvester ini sangat baik untuk membantu proses panen. Gabah dapat terkumpul dengan lebih optimal sehingga proses pemanenan menjadi lebih efektif dan efisien. Kami berharap bantuan ini benar-benar memberikan manfaat bagi petani,” ungkap Wahyu.
Rasa syukur juga disampaikan Ngadimo, perwakilan Kelompok Tani Mekar Sari Desa Tirta Mulya. Ia mengaku bantuan tersebut menjadi bentuk perhatian yang sangat berarti bagi petani di wilayahnya.
Menurutnya, keberadaan alat panen modern diharapkan dapat membantu kelompok tani menghadapi masa panen dengan lebih mudah dan efisien.
“Bantuan ini sangat membantu kami. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bank Indonesia, Bapak Gubernur, serta Wakil Gubernur Bapak Mian atas kepedulian terhadap petani padi,” tuturnya.
Penyerahan bantuan tersebut turut dihadiri Bupati Mukomuko Choirul Huda, Wakil Bupati Mukomuko Rahmadi AB, Sekretaris Daerah Kabupaten Mukomuko Marjohan, Kepala Bapperida Provinsi Bengkulu Yuliswani, serta Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu Desman Siboro. [nata]
