-->

Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Jembatan Gantung di Batik Nau Ambruk, Panen Warga 10 Ton Terpaksa Pakai Rakit

| Maret 14, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-14T14:45:31Z

 

Kondisi jembatan

Pesonanusa. Pemerintah Desa Pagar Ruyung, Kecamatan Batik Nau, Kabupaten Bengkulu Utara, mengusulkan perbaikan jembatan gantung yang ambruk di Dusun II setelah tertimpa pohon durian pada Kamis (12/3) lalu. Jembatan tersebut merupakan akses utama masyarakat untuk mengangkut hasil panen sawit dan karet.


Kepala Desa Pagar Ruyung, Agung Hartodi, mengatakan pihak desa telah melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah kecamatan serta sejumlah instansi terkait agar segera mendapat perhatian.

“Pasca kejadian, kami sudah melaporkan ke kecamatan dan lima instansi terkait, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Bengkulu Utara yang langsung turun ke lokasi untuk mengecek kondisi jembatan,” ujar Agung kepada wartawan, Sabtu (14/3).


Menurutnya, jembatan gantung yang dibangun pada tahun 2025 tersebut kini tidak lagi dapat digunakan oleh masyarakat untuk mengangkut hasil panen. Padahal, jembatan itu menjadi jalur penting bagi petani dari Desa Pagar Ruyung maupun desa tetangga.

Saat ini, warga terpaksa menggunakan rakit untuk menyeberangkan hasil produksi pertanian.

“Biasanya hasil panen diangkut menggunakan sepeda motor oleh petani di Desa Pagar Ruyung maupun desa sekitar. Namun sejak kejadian ini, kami menggunakan rakit untuk menyeberang,” jelasnya.


Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi dapat segera memperbaiki jembatan tersebut, mengingat fungsinya sangat vital bagi aktivitas ekonomi masyarakat.

Agung menyebutkan, dalam setiap musim panen, hasil produksi petani bisa mencapai sekitar 10 ton. Jika hanya mengandalkan rakit, proses pengangkutan menjadi lebih lambat dan daya angkutnya sangat terbatas.

“Kalau pakai rakit tentu aktivitas jadi lambat. Selain itu juga terkendala arus sungai yang deras saat hujan,” pungkasnya. [nata]



×
Berita Terbaru Update